mimpi si anak sulung

very simple person in a very simple live and has a very sophisticated destiny...!!!

samudera butir pasir

gores kecil tentang sepenggal kisah tentang hidup.

view:  full / summary

Posted at 01:28 AM on June 24, 2009 Comments comments (0)

Kali ini aku terjatuh lagi dari keindahan, kupaksakan memijakkan telapak kaki di rumput berembun. Dingin, walau tak sedingin yang kutakutkan. Langkahku terlelap dalam lelah. Menghirup seluruh oksigen yang tersisa, memandangi pelangi pagi.. terlalu banyak yang menyumpal benak ini, gradasi pelangi pagi ini tak cukup kuat untuktidak membuatku termangu, ia hanya sebuah pelangi hitam putih di bolamata.

burung-burung kecil berwarna coklat, terlihat betahbertengger di atas ranting cemara. segerombolan semut menggotongbutir-butir gula, entah dari mana mereka temukan butir-butir itu.apakah semua itu sebuah keindahan? aku tak bisa menikmatinya…… dananehnya tak satupun alasan kutemukan mengapa aku seperti tak pernahtersadar, tak pernah terjaga, dari sebuah mimpi yang menakutkan.

kusudahilamunan pagi ini, kurasa alam telah membaca bilah-bilah hati ini. hatiyang kubiarkan terbuka, untuk alam renungkan. embun sedah mulaimenguap, burung-burung kecil berwarna coklat telah terbang menari-nari,hanya semut-semut hitam yang masih sibuk dengan butir-butir gulamereka. ah sudahlah,, sudah saatnya kembali melangkahkan kaki mencaributir embun yang tersisa. meninggalkansepasang telapak kaki yangmembekas di rerumputan.

’sandi mane dzan?’ ibu bertanya ‘akap bute lok ini’ lanjutnya

‘lapangan bola mak’ jawabku seadanya pada wanita itu

’sarapan, di meja’

‘bak mane?’

‘la udem sarapan, tu dang siap-siap nak pegi’

lamunan pagi tadi masih menemaniku dan sarapan pagi ini.

‘ngape dimak kumbu ngan teh manisnye?’ suara itu membangunkanku

‘dide ai, lemak nian malah’

‘ngape ade masalah?’ suaranya sangat meneduhkan, sangat meneduhkan..

‘dide, dasar be nak melamun’ pernyataanku tadi menutup perbincangan dengan umak pagi ini.

***

dinginpagi ini sedikit membuatkusungkan membasahi tubuh denganbergayung-gayunng air dari bak dikamar mandi. tapi tak apalah mungkinbeban ini akan hilang bersama segar air bak pagi ini, semoga..

‘dzan nak kemane lagi?’ ibu sedikit berteriak, menatapku yang sudah membuka setengah pintu pagar

‘badah bak begawi mak sekalian nulonginye..!’

mencobamelupakan beban yang menggantung di benak dan hati, pagi ini aku cobamencari kesibukan membantu bak, yang tak pernah lelah meneteskanbutir-butir keringat demi nafas istri dan anak-anknya.

langkahpertamaku disambut senyum mentari yang menerobos ranting-ranting tinggipohon rambutan, sinar itu seakan memaksa susunan otak dikepala sedikitmencair dari sebuah ketakutan.

‘ngape dzan ade masalah dengan kuliahnye?’ suara khas bak, memecah kebisingan suara mesin gergaji kayu.

‘dek bedie bak’

‘ngapebak kina’i lok sering nian melamun’ dia tuturkan sebuah hipotesa serayamenunjuk gergaji didepanku, mengisyaratkan untuk memberikan kepadanya.

‘dek taulah bak, aku bingung’ jawabku yang mungkin tak benar-benar menjawabnya.

‘gegalejeme didunie, pasti ade masalah dzan, dan masing-masing jeme ade caramecahkannye. tapi bak, umak ngan jeme disekitar kabadek pacak bebuatbanyak, ame kaba dek ngizinkah kami keruan masalah-masalah kaba’

sejenakbak menghentikan menggergaji kayu yang kupegangi. matanya menatapkudalam, aku tak bisa berlama-lama menatap manata nya, hanya sebentar..dan ku alihkan pandanganku ke bukit serelo yang tampak berkabut. bakkembali meneruskan pekerjaanya , dan tampak masih menunggu jawabandariku yang masih terdiam…

‘bukan masalah yang besak bak,biaselah anak mude’ jawabku sambil memegangi kayu didepanku, berusahasembunyikan ‘my real problem’

‘nian ape..’

‘kebile ngulang ke laye?’ lanjutnya

’senen.. ngurusi KRS’

terimakasih senyum mentari, pagi ini kudapatkan sebuah cerah, dan hatikutampak sedikit lebih indah, lebih tegar dari ranting tinggi pohonrambutan yang kau sinari.untuk pertama kali aku menikmati pgi, setelahsekian lama. dan pencerahan itu dari seorang kuli bangunan bersuarakhas. yang setiap pagi dan senjanya menggergaji kayu, mengaduksemen,atau mnyusun rapi genteng dan batu bata.

***

‘dzan, ni hemat-hemat gi itulah yang ade’

‘mekasihmak’ kuterima beberapa lembar rupiah dari tangan umak. tak banyakmemang, di cukup-cukupkan untuk biaya kuliah di inderelaya.

‘o au mak, aku nak ke lahat kudai, lalame dide ngecap bakso bak cek’

‘kaba nak besepur ape naik bus?’

‘caknye besepur be, gilah empuk rami nagh’

kugotong tas yang penuh sesak dengan baju dan beberapa buku, serta sebuahkardus terikat tali pelastik dengan beras dan sayur mayur di dalamnya.kutundukkan kepalaku menyambut tangan umak, menyalaminya nya untukkemudian menempelkan tanganya di keningku.

‘mak, umongkah nga bak aku pegi’

‘auati-ati, jangan lupe sholat, belajaw benaw-benaw, dide nak ngiringkahyang macam-macam’ sebuah nasehat yang telah kuhafal di luar kepala.

akupergi menunggu angkutan desa yang sesekali melintasi jalan lintassumatera , mengantar orang-orang yang ingin ke lahat atau muara enim.kali ini aku beruntung, karena tak begitu lama….

TUBE KONTINYUT……

 



Rss_feed

Recent Forum Posts

No recent posts

Featured Products

No featured products